577445_162465607253756_149597417_n

Hari ini hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan
aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya
PD,ceria dan spontan blak-blakan, meskipun kadang dia bisa
judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu
berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki
wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia
memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan
perasaan yang nyaman bagi kita-kita . Buatku dia adalah yang
terseksi. Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu
yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang
tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari
mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput
Dewiku. Dewi telah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar
makan malam, tetapi dia belum tahu kemanakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku
sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama
kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yg menawan, memakai
rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia
berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik
tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan
ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil
mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir
bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran
matanya menyorotkan hatinya yg senang. Aku membukakan pintu
mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai
jalan. Sepanjang jalanan kami bercanda ria, sambil tak lupa
kusinggung penampilannya yg anggun sekali hari ini. Dan Dewi
pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya.
Dia bersikap manja sekali terhadapku, yg bisa membuat hatiku
senang, menimbulkan perasaan suka yg dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di
tempat tujuan. Dewi sekilas rada terkejut setelah melihat
tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant ato hotel
mewah yg menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran
jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama
sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan
favoritnya Dewi. Kamipun jalan masuk kedalam kedai tersebut
dan mulai memesan makanan.

Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil,
kamipun terus mengobrol lalu lalang menunggu datangnya
makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang
tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil
sekali-kali, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha
menarik-narik tangannya dan berkata, ” aihh, malu ah “. Akupun
hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja
aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai
memainkan jari-jari kakiku di betisnya yg ramping dan putih
itu. Ahh dia terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi
situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke
kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan
datangnya makanan yg kami pesan. Kamipun mulai menikmati
kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku
menyuapinya sekali-kali dan Dewipun membalasnya.

Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama
kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Tak
lama kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen
itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun
dan mulai menyanyikan satu lagu yg khusus telah kuminta dari
pengamen tersebut. Lagu dari Memes yg judulnya ‘Terlanjur
Sayang’. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda
merah tersipu, sambil tersenyum. Malampun semakin bertambah
hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kamipun
beranjak keluar. Tetapi malam belom berakhir bagi kami. Aku
menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya. Mobil mulai
menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota.
Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan.
Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman
dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di
tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena
kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel,
dimana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift.
Sesampainya di kamar dewi langsung menyerbuku dengan
menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku. tetapi aku
menahannya, karena masih ada sesuatu yg ingin kuberikan kepada
Dewi, yaitu hadiah HUTnya. Aku mengeluarkan kotak kecil
berwarna biru dan berkata ” Happy Birthday Sweetheart”. Dewi
membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya,
terlihat matanya memancarkan sinar,”thanks honey” dan
merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit
kecil. Aku berbisik padanya ” di coba donk sayang”.

Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya
dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku
mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari
belakang. Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke
arah kiri dan mulai menciumi lehernya yg jenjang. Kumainkan
bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh
dengan ujung lidah dan ku hisap-isap, sementara tanganku mulai
mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak keatas. Dewi
sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah
ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka
ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai, kupeluk Dewiku
yg hanya berbalut pakainan dalam dari belakang. Tiba-tiba Dewi
membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku
dengan ganas. Kami saling berpagutan, ku melahap bibir atas
Dewi, dan dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami
berputar-putar didalam mulut. Ciuman berpindah keleher
masing-masing dengan di selingi gigitan-gigitan kecil.

Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku.
Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yg
berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk.
Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya
mengelus-elus kurvanya yg halus. Kumainkan jariku di antara
belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-isap
putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, “ahhh” ,
tanganku berusaha mencari kaitan BHnya di punggung, sedangkan
dewi sudah berhasil menurunkan celanaku. Kami hanya tinggal
bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi lagi dan memegangi kedua
tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di
dinding, aku memagut bibirnya lagi yg merah merekah. Tangan
kananku mengusap-usap lembut dadanya yg polos bersih. Sambil
tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah
ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah,
pemandangan yg tak akan kulupakan. Akupun melepaskan celanaku
dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik ” malam ini aku
akan memanjakanmu, my princess”.

Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku ” aku sayang
kamu Roy”. Akupun menatapnya balik dengan lembut dan berkata,
” aku mao supaya malem ini kamu tidak membantah apa yg aku
kata, aku masih ada sesuatu untukmu.” “Ohh apa itu Roy ?”. “
ssstttt” kataku sembari menutup mulutnya yg mungil dengan dua
jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yg telah
kusiapkan dari rumah. Kemudian aku duduk di samping dewi
sambil berkata, ” aku akan menutup matamu sayang ” ” ah tapi ,
apaan sih kok tutup-tutup segala ” protes Dewi. ” Tenang
honey, just trust me, OK ” kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju.

Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut. Dengan
perlahan aku membaringkan tubuh Dewi lagi, namun berbalik
telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah.
Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari
belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku
menjalar-jalar di punggungnya Dewi tepat di belahannya. Aku
menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari
tanganku saja, perlahan dari pundak sampe kebelakang lutut.
Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di
bawah lengannya. Naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun,
hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai
bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali
kuturunkan hingga pangkal paha, dimana aku merasakan sesuatu
yg hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan
lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat
bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian
dalam bergantian ku elus dengan jari dan telapak tangan,
sambil kucium dan jilat bagian belakang pahanya dan bagian
belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah dimana
aku mulai menghisap-isap jari-jari kakinya dengan perlahan dan
hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yg buberikan
ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke
pantatnya dimana aku memainkan kepala penisku di bulatan
pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, ku gesek-gesekan
dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat, dan perlahan lagi,
sambil ku tiduri Dewi dari atas.

Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeraslidahku yg kubuat
melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, dimana tepat di
tengah-tengah lehernya aku melahap, ” eehh, nnggg, Roy ayo
Roy, ehmmmm “. Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia
sekarang berbaring terlentang masih dengan mata tertutup.
Akupun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yg merah
muda itu sambil menahan tangannya yg ingin memelukku. Dengan
tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku
melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali aku
tarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak
mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup
matanya.

Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi. ” Ahhh Roy, kok kamu
gitu sih, jangan bikin aku geregetan donk ” . Aku melahap
lehernya yg putih sekarang, lidah-lidahku bergerak bergantian
dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di
selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya
bisa menggelinjang tinggi yg langsung ku sambut dengan ciuman
lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan kebagian dadanya. Aku
mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yg
mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yg enak
sekali.

Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan
ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan
sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yg indah itu.
Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yg merekah
berdiri. Aku menghisapnya bagaikan bayi yg sedang menyusui,
sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan
ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku
juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar
tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku
menangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yg
bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya
sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku
berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya,
dan memasukan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan
kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan
kananku mulai bermain di bibir vaginanya yg sudah merekah
basah. Aku hanya menggesek-gesekan jariku tanpa berusaha
mengenai klitorisnya. Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan
mulai membuka bibir vaginanya.

Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi
melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai
menggesek-gesek ujung lubang vaginanya, sementara lidahku
kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga
menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan
hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk dalam vaginanya,
berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya
dinding vaginanya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding
vaginanya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap
klitorisnya, sememntara jempolku kumainkan di antara vagina
dan anusnya. Dewi berontak bangun ” cepat Roy, ayo masukin
donkkk please”. Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi
lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku diantara
selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yg menyelipkan
salah satu pahanya ke selangkanganku.

Kamipun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di
paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak
dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku
dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil
menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di
arahkan ke vaginanya, dan ” ahhhh” kurasakan hangatnya
kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot vagina
Dewi. Dewi sekarang berada diatasku dan mengambil kontrol. Dia
menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil
menciumiku dengan ganasnya. Tubuh kami berkeringatan, aku
meremas-remas dadanya Dewi, kemudian aku memeluk dewi
erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta
memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin
mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba
aku merasakan sensasi yg luar biasa, sekujur tubuhku
bergetar,terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi
vaginanya. Demikian pula dengan Dewi dia memelukku erat-erat.

Kamipun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai
dalam rasa nikmat. Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah
kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. aku mengecup
kening Dewi. ” Happy Birthday Honey “.

——————————————————————————–

Hari ini hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan
aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya
PD,ceria dan spontan blak-blakan, meskipun kadang dia bisa
judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu
berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki
wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia
memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan
perasaan yang nyaman bagi kita-kita . Buatku dia adalah yang
terseksi. Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu
yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang
tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari
mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput
Dewiku. Dewi telah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar
makan malam, tetapi dia belum tahu kemanakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku
sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama
kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yg menawan, memakai
rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia
berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik
tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan
ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil
mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir
bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran
matanya menyorotkan hatinya yg senang. Aku membukakan pintu
mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai
jalan. Sepanjang jalanan kami bercanda ria, sambil tak lupa
kusinggung penampilannya yg anggun sekali hari ini. Dan Dewi
pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya.
Dia bersikap manja sekali terhadapku, yg bisa membuat hatiku
senang, menimbulkan perasaan suka yg dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di
tempat tujuan. Dewi sekilas rada terkejut setelah melihat
tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant ato hotel
mewah yg menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran
jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama
sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan
favoritnya Dewi. Kamipun jalan masuk kedalam kedai tersebut
dan mulai memesan makanan.

Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil,
kamipun terus mengobrol lalu lalang menunggu datangnya
makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang
tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil
sekali-kali, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha
menarik-narik tangannya dan berkata, ” aihh, malu ah “. Akupun
hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja
aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai
memainkan jari-jari kakiku di betisnya yg ramping dan putih
itu. Ahh dia .terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi
situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke
kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan
datangnya makanan yg kami pesan. Kamipun mulai menikmati
kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku
menyuapinya sekali-kali dan Dewipun membalasnya.

Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama
kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Tak
lama kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen
itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun
dan mulai menyanyikan satu lagu yg khusus telah kuminta dari
pengamen tersebut. Lagu dari Memes yg judulnya ‘Terlanjur
Sayang’. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda
merah tersipu, sambil tersenyum. Malampun semakin bertambah
hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kamipun
beranjak keluar. Tetapi malam belom berakhir bagi kami. Aku
menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya. Mobil mulai
menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota.
Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan.
Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman
dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di
tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena
kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel,
dimana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift.
Sesampainya di kamar dewi langsung menyerbuku dengan
menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku. tetapi aku
menahannya, karena masih ada sesuatu yg ingin kuberikan kepada
Dewi, yaitu hadiah HUTnya. Aku mengeluarkan kotak kecil
berwarna biru dan berkata ” Happy Birthday Sweetheart”. Dewi
membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya,
terlihat matanya memancarkan sinar,”thanks honey” dan
merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit
kecil. Aku berbisik padanya ” di coba donk sayang”.

Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya
dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku
mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari
belakang. Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke
arah kiri dan mulai menciumi lehernya yg jenjang. Kumainkan
bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh
dengan ujung lidah dan ku hisap-isap, sementara tanganku mulai
mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak keatas. Dewi
sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah
ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka
ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai, kupeluk Dewiku
yg hanya berbalut pakainan dalam dari belakang. Tiba-tiba Dewi
membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku
dengan ganas. Kami saling berpagutan, ku melahap bibir atas
Dewi, dan dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami
berputar-putar didalam mulut. Ciuman berpindah keleher
masing-masing dengan di selingi gigitan-gigitan kecil.

Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku.
Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yg
berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk.
Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya
mengelus-elus kurvanya yg halus. Kumainkan jariku di antara
belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-isap
putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, “ahhh” ,
tanganku berusaha mencari kaitan BHnya di punggung, sedangkan
dewi sudah berhasil menurunkan celanaku. Kami hanya tinggal
bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi lagi dan memegangi kedua
tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di
dinding, aku memagut bibirnya lagi yg merah merekah. Tangan
kananku mengusap-usap lembut dadanya yg polos bersih. Sambil
tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah
ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah,
pemandangan yg tak akan kulupakan. Akupun melepaskan celanaku
dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik ” malam ini aku
akan memanjakanmu, my princess”.

Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku ” aku sayang
kamu Roy”. Akupun menatapnya balik dengan lembut dan berkata,
” aku mao supaya malem ini kamu tidak membantah apa yg aku
kata, aku masih ada sesuatu untukmu.” “Ohh apa itu Roy ?”. “
ssstttt” kataku sembari menutup mulutnya yg mungil dengan dua
jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yg telah
kusiapkan dari rumah. Kemudian aku duduk di samping dewi
sambil berkata, ” aku akan menutup matamu sayang ” ” ah tapi ,
apaan sih kok tutup-tutup segala ” protes Dewi. ” Tenang
honey, just trust me, OK ” kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju.

Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut. Dengan
perlahan aku membaringkan tubuh Dewi lagi, namun berbalik
telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah.
Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari
belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku
menjalar-jalar di punggungnya Dewi tepat di belahannya. Aku
menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari
tanganku saja, perlahan dari pundak sampe kebelakang lutut.
Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di
bawah lengannya. Naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun,
hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai
bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali
kuturunkan hingga pangkal paha, dimana aku merasakan sesuatu
yg hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan
lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat
bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian
dalam bergantian ku elus dengan jari dan telapak tangan,
sambil kucium dan jilat bagian belakang pahanya dan bagian
belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah dimana
aku mulai menghisap-isap jari-jari kakinya dengan perlahan dan
hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yg buberikan
ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke
pantatnya dimana aku memainkan kepala penisku di bulatan
pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, ku gesek-gesekan
dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat, dan perlahan lagi,
sambil ku tiduri Dewi dari atas.

Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeraslidahku yg kubuat
melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, dimana tepat di
tengah-tengah lehernya aku melahap, ” eehh, nnggg, Roy ayo
Roy, ehmmmm “. Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia
sekarang berbaring terlentang masih dengan mata tertutup.
Akupun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yg merah
muda itu sambil menahan tangannya yg ingin memelukku. Dengan
tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku
melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali aku
tarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak
mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup
matanya.

Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi. ” Ahhh Roy, kok kamu
gitu sih, jangan bikin aku geregetan donk ” . Aku melahap
lehernya yg putih sekarang, lidah-lidahku bergerak bergantian
dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di
selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya
bisa menggelinjang tinggi yg langsung ku sambut dengan ciuman
lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan kebagian dadanya. Aku
mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yg
mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yg enak
sekali.

Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan
ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan
sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yg indah itu.
Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yg merekah
berdiri. Aku menghisapnya bagaikan bayi yg sedang menyusui,
sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan
ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku
juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar
tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku
menangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung
lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yg
bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya
sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku
berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya,
dan memasukan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan
kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan
kananku mulai bermain di bibir vaginanya yg sudah merekah
basah. Aku hanya menggesek-gesekan jariku tanpa berusaha
mengenai klitorisnya. Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan
mulai membuka bibir vaginanya.

Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi
melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai
menggesek-gesek ujung lubang vaginanya, sementara lidahku
kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga
menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan
hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk dalam vaginanya,
berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya
dinding vaginanya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding
vaginanya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap
klitorisnya, sememntara jempolku kumainkan di antara vagina
dan anusnya. Dewi berontak bangun ” cepat Roy, ayo masukin
donkkk please”. Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi
lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku diantara
selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yg menyelipkan
salah satu pahanya ke selangkanganku.

Kamipun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di
paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak
dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku
dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil
menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di
arahkan ke vaginanya, dan ” ahhhh” kurasakan hangatnya
kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot vagina
Dewi. Dewi sekarang berada diatasku dan mengambil kontrol. Dia
menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil
menciumiku dengan ganasnya. Tubuh kami berkeringatan, aku
meremas-remas dadanya Dewi, kemudian aku memeluk dewi
erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta
memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin
mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba
aku merasakan sensasi yg luar biasa, sekujur tubuhku
bergetar,terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi
vaginanya. Demikian pula dengan Dewi dia memelukku erat-erat.

Kamipun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai
dalam rasa nikmat. Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah
kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. aku mengecup
kening Dewi. ” Happy Birthday Honey “.